- Diposting oleh : Sekolah Dasar Negeri 3 Canduk
- pada tanggal : Selasa, Mei 05, 2026
SDN 3 CANDUK – Suasana khidmat namun penuh konsentrasi menyelimuti Komplek SD Negeri 1 Lumbir pada Selasa (5/5/2026), saat puluhan pengrajin cilik berkumpul untuk menunjukkan kemahiran tangan mereka. Dalam perhelatan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kecamatan Lumbir, SD Negeri 3 Canduk secara resmi mengirimkan talenta terbaiknya, Adrian Pradipita Amzari, untuk berlaga di cabang lomba Kriya Anyam. Siswa kelas 5 tersebut tampil membawa misi pelestarian tradisi melalui jalinan serat yang penuh ketelitian, sekaligus menjadi simbol kebangkitan kreativitas siswa dari sekolahnya di kancah kecamatan.
Ajang bergengsi yang menjadi wadah unjuk bakat seni rupa tersebut tercatat diikuti oleh perwakilan dari 34 Sekolah Dasar di seluruh wilayah Kecamatan Lumbir. Kehadiran puluhan peserta tersebut menciptakan standar kompetisi yang sangat tinggi, di mana setiap anyaman dinilai berdasarkan kerumitan teknik, estetika, dan keaslian ide. Persaingan yang ketat tersebut menuntut Adrian Pradipita Amzari untuk tetap tenang dan fokus dalam merangkai bahan mentah menjadi sebuah karya seni fungsional yang bernilai artistik tinggi di hadapan dewan juri.
Laporan dari lokasi menunjukkan bahwa persiapan yang dilakukan delegasi SDN 3 Canduk tersebut telah melewati fase latihan teknis yang mendalam selama beberapa bulan terakhir. Proses latihan intensif tersebut tidak hanya mengasah keterampilan tangan, tetapi juga ketahanan mental siswa dalam menghadapi durasi lomba yang cukup panjang. Partisipasi Adrian dalam cabang kriya tersebut dipandang sebagai bukti nyata bahwa edukasi berbasis kearifan lokal terus dipupuk dengan baik di lingkungan sekolahnya guna menghadapi arus modernitas yang kian deras.
Keberhasilan penampilan Adrian di atas meja lomba tersebut tidak terlepas dari peran krusial Susanto, S.Pd., selaku pendamping sekaligus pelatih teknis kriya. Bimbingan dari Susanto tersebut difokuskan pada penguasaan berbagai pola anyaman tradisional yang dimodifikasi dengan sentuhan kreatif masa kini. Arahan teknis tersebut sangat penting bagi Adrian agar mampu mengelola waktu pengerjaan dengan efektif tanpa mengurangi kualitas kerapian hasil akhir karyanya di ajang FLS3N tersebut.
Dukungan institusional terhadap keberangkatan tim kecil ini datang langsung dari Kepala SD Negeri 3 Canduk, Nana Asrotin, S.Pd.SD. Kebijakan sekolah tersebut dalam memfasilitasi kebutuhan bahan dan ruang latihan bagi Adrian menjadi faktor pendukung utama dalam meningkatkan kepercayaan diri sang siswa. Melalui manajemen sekolah yang modern dan transparan tersebut, seluruh kebutuhan operasional untuk perlombaan di Komplek SD Negeri 1 Lumbir dapat terpenuhi dengan baik, mencerminkan komitmen sekolah dalam mendukung setiap bakat yang dimiliki oleh peserta didiknya.
Meskipun Kriya Anyam adalah seni yang membutuhkan kesabaran dalam keheningan, semangat yang melatarbelakanginya terdengar sangat kuat melalui pernyataan para tokoh pendidikan yang mendampingi perjuangan Adrian.
Kepala Sekolah SDN 3 Canduk, Nana Asrotin, S.Pd.SD., menekankan pentingnya pelestarian budaya melalui pendidikan "Keikutsertaan Adrian Pradipita Amzari dalam lomba Kriya Anyam hari ini adalah bagian dari visi kami untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga melestarikan budaya di era digital. Anyaman adalah warisan leluhur yang membutuhkan ketelatenan luar biasa. Kami di SDN 3 Canduk ingin menunjukkan bahwa anak muda pun bisa mencintai kearifan lokal. Saya sangat bangga melihat Adrian berani bersaing dengan 34 sekolah lainnya. Hasil juara adalah harapan, namun keberaniannya dalam menganyam jati diri bangsa di atas panggung FLS3N ini adalah prestasi yang tak ternilai bagi kami."
Susanto, S.Pd., selaku Pendamping dan Pelatih Kriya, menjelaskan proses kreatif anak didiknya "Adrian adalah siswa yang memiliki bakat alami dalam seni kriya. Sejak awal latihan, saya melihat ketenangan yang luar biasa dalam jemarinya saat menarik serat demi serat. Tantangan utama dalam lomba kriya anyam tingkat kecamatan ini adalah bagaimana menyatukan fungsionalitas barang dengan keindahan visual. Kami telah menyiapkan konsep yang unik untuk hari ini. Saya optimis, apa pun hasilnya nanti, karya Adrian akan memberikan warna tersendiri bagi dewan juri karena ia mengerjakannya dengan dedikasi dan hati yang tulus."
Adrian Pradipita Amzari, Peserta Lomba Kelas 5, menyampaikan tekadnya sebelum perlombaan dimulai "Saya sudah berlatih setiap hari dengan bimbingan Pak Susanto dan semangat dari Ibu Nana. Menganyam itu susah-susah gampang, butuh kesabaran supaya hasilnya rapi. Hari ini saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk nama baik SDN 3 Canduk. Saya ingin menunjukkan bahwa anyaman buatan saya bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain di Kecamatan Lumbir. Mohon doanya supaya tangan saya tetap tenang sampai semua polanya selesai."
Hingga berita ini diturunkan, Adrian masih tampak sibuk menyelesaikan detail-detail akhir dari karyanya di tengah riuh rendah Komplek SD Negeri 1 Lumbir. Perjuangan satu orang siswa kelas 5 ini merepresentasikan harapan besar dari seluruh warga sekolah SDN 3 Canduk. Melalui sebilah bahan anyaman, Adrian tidak hanya sedang berlomba, tetapi sedang merajut masa depan dan melestarikan tradisi bangsa di tengah kompetisi yang diikuti oleh puluhan sekolah dasar lainnya.
Perhelatan FLS3N tahun 2026 ini diharapkan menjadi momentum bagi bangkitnya kecintaan siswa terhadap seni kriya tradisional. Bagi SDN 3 Canduk, kehadiran Adrian di ajang ini telah membuktikan bahwa sekolah tersebut mampu melahirkan siswa yang berintegritas dalam karakter dan terampil dalam karya, sesuai dengan visi pendidikan modern yang tetap berpijak pada akar budaya nusantara.
