- Diposting oleh : Sekolah Dasar Negeri 3 Canduk
- pada tanggal : Jumat, Mei 15, 2026
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wa Barakatuh
Kepada yang terhormat Bapak/Ibu Kepala Sekolah SD......
Yang kami hormati Bapak/Ibu Dewan guru SD...., yang kami hormati Ketua Komite SD......, yang kami hormati orangtua / walimurid kelas 6, serta anak anaku kelas 6 yang saya banggakan.
Puji syukur kehadirat Alloh SWT, atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di acara perpisahan kelas 6 tahun jaran 2025/2026, sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada ebaik baik umat, Nabi Muhammad SAW.
Anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan dan cintai...
Hari ini, kalian berdiri di sebuah garis batas. Di belakang kalian adalah enam tahun penuh warna di sekolah dasar ini, dan di depan kalian adalah hamparan luas masa depan yang menanti untuk dijelajahi.
Mungkin saat ini, kalian merasa acara ini hanyalah rutinitas tahunan biasa. Ada dekorasi bunga, sesi foto bersama dengan kemeja yang rapi, tawa di sudut kelas, dan mungkin sedikit rasa lega karena beban tugas sekolah telah usai. Namun, dengarkan baik-baik apa yang Bapak/Ibu katakan: Percayalah, beberapa tahun dari sekarang, di saat kalian sudah dewasa dan mulai memikul beban dunia, kalian akan menyadari bahwa hari ini adalah salah satu kenangan paling berharga yang pernah kalian miliki.
Waktu adalah pencuri yang licik. Kelak, kalian mungkin akan lupa berapa nilai ulangan matematika kalian di kelas 6. Kalian mungkin tidak akan ingat lagi rumus volume kerucut atau tugas sejarah yang pernah membuat kalian pusing. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah hilang dari ingatan kalian: rasa.
Kalian tidak akan lupa suasana hangat di kelas saat hujan turun, candaan dengan teman sebangku yang membuat kalian tersedak tawa, suara bel istirahat yang selalu dinanti, hingga wajah guru yang mungkin pernah menegur kesalahan kalian—bukan karena benci, melainkan karena mereka peduli agar kalian tidak salah melangkah.
Di sekolah ini, dinding-dinding kelas ini menjadi saksi bahwa kalian belajar lebih dari sekadar membaca dan berhitung. Di sini, kalian belajar hal yang jauh lebih sulit: kalian belajar untuk berani meminta maaf saat salah, belajar sabar menunggu giliran, belajar menghargai perbedaan teman, dan yang paling penting, kalian belajar cara bangkit berdiri setelah mengalami kegagalan. Itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya.
Anak-anakku...
Nanti, ketika kalian tumbuh dewasa dan melangkah di luar sana, dunia tidak akan selalu ramah. Akan ada hari-hari di mana langit terasa gelap, di mana kalian merasa kecewa, lelah, atau bahkan ingin menyerah karena kenyataan tidak sesuai dengan rencana.
Saat masa-masa sulit itu datang, Bapak/Ibu ingin kalian berhenti sejenak dan ingatlah hari ini. Ingatlah bahwa dulu, kalian pernah menjadi anak kecil yang sangat berani. Kalian berani datang ke sekolah ini dengan tangan kosong, belajar segala sesuatu dari nol, dan terus mencoba melangkah meskipun sering terjatuh dan salah. Kalian adalah pejuang sejak kecil, dan kekuatan itu masih ada di dalam diri kalian hingga hari ini.
Bapak/Ibu punya satu pesan penting untuk kalian bawa di tas punggung masa depan kalian: Jangan pernah malu menjadi orang baik. Di dunia yang kadang terasa keras ini, jangan tertipu dengan anggapan bahwa menjadi "keren" berarti harus meremehkan orang lain atau melanggar aturan. Keren yang sesungguhnya adalah ketika kalian mampu tetap jujur di tengah kecurangan, tetap sopan di tengah kasar, dan tetap peduli di tengah ketidakpedulian. Hormatilah orang tua yang telah memeras keringat demi pendidikan kalian, dan ingatlah pesan guru-guru kalian yang selalu ingin melihat kalian melampaui keberhasilan kami.
Kelulusan hari ini bukanlah akhir dari sebuah buku. Ini hanyalah penutup bab pertama. Hari ini, kalian menutup buku "Masa Kanak-kanak" dan mulai menulis judul besar di bab berikutnya: "Mengejar Mimpi."
Mungkin suatu hari nanti, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saat kalian sudah menjadi dokter, insinyur, seniman, pengusaha, atau pemimpin negeri ini, kalian akan melewati jalan di depan sekolah tua ini. Semoga saat itu, kalian tersenyum dan mengenang tempat kecil ini sebagai tanah tempat benih kesuksesan kalian pertama kali ditanam. Tempat kalian pernah tumbuh, tertawa, dan belajar arti menjadi manusia.
Terima kasih, anak-anakku, karena telah mengizinkan Bapak/Ibu menjadi bagian dari cerita hidup kalian. Pintu sekolah ini mungkin akan tertutup bagi kalian hari ini, namun doa kami akan selalu terbuka lebar mengiringi setiap langkah kalian.
Selamat melanjutkan perjalanan. Terbanglah setinggi mungkin, namun jangan pernah lupakan akar kalian.
.jpg)