- Diposting oleh : Sekolah Dasar Negeri 3 Canduk
- pada tanggal : Kamis, Oktober 08, 2026
Menggali Kekayaan Budaya Lewat Kuliner Tradisional
Pendidikan di sekolah dasar sejatinya tidak hanya sebatas menghafal teori di dalam ruang kelas. Anak-anak juga perlu diajak mengenali, memahami, dan mencintai akar budayanya sendiri agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter.
Salah satu cara paling lezat, interaktif, dan menyenangkan untuk mempelajari budaya lokal adalah melalui kuliner tradisional. Makanan selalu memiliki cerita manis tentang dari mana kita berasal.
Bagi siswa kelas 6 di wilayah Kabupaten Banyumas, khususnya di SD Negeri 3 Canduk, mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) menghadirkan materi yang sangat istimewa. Siswa diajak berkenalan langsung dengan kuliner kebanggaan daerah, yaitu Sroto Sokaraja.
Sroto Sokaraja: Identitas Rasa Kebanggaan Banyumas
Bagi masyarakat di luar daerah Banyumas, hidangan berkuah kaldu gurih ini mungkin lebih familier dengan sebutan "Soto". Namun, di Banyumas, hidangan legendaris ini memiliki identitas dan ejaan pelafalannya sendiri, yakni Sroto.
Sroto Sokaraja adalah varian soto khas yang lahir dan berkembang dari daerah Sokaraja. Perbedaan paling mencolok antara sroto ini dengan soto dari daerah lain terletak pada isian dan bumbu pelengkapnya.
Sroto Sokaraja tidak disajikan bersama nasi putih, melainkan menggunakan potongan ketupat. Kuah kaldunya pun semakin istimewa karena diperkaya dengan siraman sambal kacang yang manis dan gurih, serta taburan remukan kerupuk cantir berbahan singkong yang renyah.
Jejak Sejarah dan Wujud Nyata Akulturasi Budaya
Menilik sejarahnya ke belakang, Sroto Sokaraja merupakan bukti nyata dari indahnya akulturasi budaya di nusantara. Konon, makanan berkuah kaldu ini awalnya dibawa oleh perantau Tionghoa dengan nama caudo atau jao to.
Kawasan Sokaraja yang sejak zaman kolonial dikenal sebagai jalur persinggahan strategis membuat resep ini mudah menyebar. Lidah masyarakat lokal Banyumas kemudian mengadaptasi hidangan tersebut agar sesuai dengan selera setempat.
Para leluhur kita menambahkan sambal kacang yang sangat akrab di lidah orang Jawa, serta mengganti dagingnya dengan ayam kampung atau sapi lokal. Inovasi rasa inilah yang membuat Sroto Sokaraja mampu bertahan melintasi zaman.
Serunya Praktik Membuat Sroto Sokaraja di Kelas
Sebagai bagian dari penerapan pembelajaran Mulok yang menyenangkan, siswa kelas 6 SDN 3 Canduk diperkenalkan pada proses pembuatannya. Praktik memasak ini tentu menjadi momen yang sangat dinantikan anak-anak.
Berikut adalah panduan resep Sroto Sokaraja yang dipelajari siswa, yang juga bisa Ayah dan Bunda praktikkan bersama anak di rumah!
Persiapan Alat dan Bahan Utama
Untuk memulai, siapkan panci berukuran sedang untuk merebus kuah kaldu, wajan untuk menumis, ulekan atau blender, serta mangkuk saji. Bahan utama yang dibutuhkan adalah 500 gram ayam kampung atau daging sapi, dan sekitar 2 liter air.
Siapkan bumbu halusnya: 7 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 3 butir kemiri, 2 ruas kunyit, 1 ruas jahe, merica, dan garam secukupnya. Jangan lupa bumbu cemplung seperti serai, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas.
Untuk bahan pelengkap wajib, siapkan ketupat, soun dan taoge yang sudah diseduh air panas, irisan daun bawang, bawang goreng, serta ikon utamanya: kerupuk cantir.
Resep Rahasia Sambal Kacang
Keistimewaan sroto ini ada pada sambalnya. Siapkan 100 gram kacang tanah goreng, 3 siung bawang putih goreng, cabai merah sesuai selera, dan 1 sendok makan gula merah.
Haluskan semua bahan tersebut menggunakan ulekan atau blender. Agar teksturnya pas, tambahkan sedikit air hangat atau beberapa sendok kuah kaldu soto hingga sambal mengental sempurna.
Langkah-Langkah Memasak
Pertama, rebus daging ayam atau sapi hingga empuk, lalu suwir atau potong dadu. Simpan air rebusan sebagai kaldu. Selanjutnya, tumis bumbu halus bersama rempah daun hingga harum, lalu masukkan ke dalam panci kaldu. Masak hingga mendidih.
Untuk penyajiannya, tata potongan ketupat di mangkuk. Tambahkan soun, taoge, dan daging, lalu siram dengan kuah panas. Berikan 1-2 sendok sambal kacang, taburi daun bawang, bawang goreng, dan remas kerupuk cantir di atasnya!
Lebih dari Sekadar Makanan: Membentuk Profil Pelajar Pancasila
Memasukkan materi kuliner lokal ke dalam kurikulum kelas 6 memiliki manfaat edukatif yang sangat luas. Melalui praktik ini, sekolah turut membangun karakter Profil Pelajar Pancasila di dalam diri siswa.
Pertama, menumbuhkan rasa cinta tanah air (Berkebinekaan Global). Siswa belajar menghargai warisan nenek moyang dan merasa bangga dengan identitas budaya lokal Banyumas. Mereka juga diajak bersyukur atas kekayaan alam berupa aneka rempah Nusantara.
Kedua, melatih keterampilan hidup atau life skills (Mandiri dan Gotong Royong). Saat memasak bersama di kelas, anak-anak belajar tentang pentingnya kerja sama tim, pembagian tugas, ketelitian, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Terakhir, menumbuhkan jiwa kewirausahaan (Kreatif). Anak-anak sejak dini dikenalkan pada potensi ekonomi dari kuliner tradisional, bahwa Sroto Sokaraja adalah produk kebanggaan UMKM lokal yang menggerakkan roda ekonomi daerah.
"Melalui semangkuk Sroto Sokaraja, kita sejatinya tidak hanya mengajarkan anak-anak cara meracik bumbu, tetapi juga cara merawat warisan leluhur. Di dalam setiap suapannya, terdapat nilai kesabaran, kerja sama, dan rasa bangga menjadi bagian dari masyarakat Banyumas. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya." — Dian Pertiwi Guru Kelas 6 SDN 3 Canduk
Kesimpulan: Mari Lestarikan Warisan Rasa!
Pembelajaran Muatan Lokal tentang Sroto Sokaraja di kelas 6 adalah jembatan emas penghubung antara generasi masa depan dengan warisan sejarah masa lalu. Melalui kegiatan ini, kekayaan sejarah dan keragaman rempah kita tidak akan lekang oleh zaman.
Bagaimana, sangat menarik bukan? Apakah kamu sudah melihat langsung atau ikut membantu proses pembuatan Sroto Sokaraja di kelas Mulok?
Yuk, coba praktikkan kembali resep lezat di atas bersama keluarga di rumah akhir pekan ini! Jangan lupa bagikan ceritamu di kolom komentar ya; apa bagian yang paling menantang saat menyiapkan hidangan istimewa ini? Kami tunggu ceritamu!
.jpg)
.jpg)