sd3canduk@gmail.com

Darurat Doomscrolling: Mengapa Siswa Sulit Fokus di Kelas dan Bagaimana Cara Mengatasinya?



Ketika Algoritma Menjadi Pesaing Guru di Kelas

Pernahkah Anda melihat seorang siswa yang tampak gelisah jika tidak memegang ponsel selama sepuluh menit saja? Atau mungkin Anda menyadari bahwa konsentrasi pelajar saat ini semakin pendek saat mendengarkan penjelasan guru? Fenomena ini bukan sekadar kebosanan biasa, melainkan dampak dari darurat doomscrolling.

Saat ini, guru di seluruh dunia tidak lagi hanya bersaing dengan teman sebangku yang berisik, tetapi bersaing dengan algoritma canggih dari platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Konten video durasi pendek yang dirancang untuk memberikan dopamin instan telah secara perlahan merusak rentang perhatian (attention span) pelajar. Pertanyaan besarnya adalah: Apakah kebijakan pelarangan ponsel di sekolah merupakan solusi yang tepat, atau justru sebuah kemunduran dalam literasi digital?

Mengapa Siswa Sulit Fokus? Memahami Sains di Balik Doomscrolling

Dampak Konten Durasi Pendek terhadap Otak Remaja

Secara biologis, otak remaja masih dalam tahap perkembangan, terutama pada bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas kontrol diri dan fokus. Konten video berdurasi 15-30 detik memberikan stimulasi visual dan auditori yang sangat cepat. Setiap kali siswa melakukan swipe ke video baru, otak mereka mendapatkan "suntikan" dopamin.

Lama-kelamaan, otak terbiasa dengan stimulasi cepat ini dan menganggap aktivitas belajar yang lambat (seperti membaca buku atau mendengarkan ceramah) sebagai hal yang menyiksa. Inilah yang disebut dengan penurunan daya fokus siswa.

Fakta dan Data Penurunan Attention Span

Menurut riset dari Microsoft, rentang perhatian manusia telah menurun drastis sejak era digital dimulai. Jika pada tahun 2000 rata-rata perhatian manusia berada di angka 12 detik, kini angka tersebut merosot hingga 8 detik.

Data dari Common Sense Media juga menunjukkan bahwa remaja menghabiskan rata-rata 7-9 jam di depan layar setiap hari untuk hiburan. Tingginya angka ini berbanding lurus dengan meningkatnya keluhan guru mengenai kesulitan siswa dalam memahami instruksi yang kompleks di sekolah.

Dilema Kebijakan Pelarangan Ponsel di Sekolah

Banyak sekolah mulai mengambil langkah drastis dengan menerapkan larangan total penggunaan ponsel. Secara sosial, ini adalah langkah pencegahan untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang interaksi tatap muka. Namun, pelarangan tanpa edukasi seringkali hanya menjadi "obat sesaat".

Pentingnya pencegahan melalui langkah sederhana bukan berarti memusuhi teknologi, melainkan mengatur ulang hubungan siswa dengan perangkat mereka. Fokus utama sekolah seharusnya adalah membangun kembali ketahanan mental agar siswa mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.

Panduan Praktis Mengatasi Doomscrolling dan Mengembalikan Fokus

Untuk mengembalikan daya fokus yang hilang, diperlukan kerja sama antara sekolah dan orang tua. Berdasarkan rekomendasi ahli kesehatan mental dan literasi digital, berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:

Waktu yang Tepat untuk Melakukan "Digital Detox"

·         Jam Sebelum Tidur: Untuk menjaga kualitas tidur dan fungsi kognitif besok pagi.
·         Selama Jam Pelajaran (07.00 - 14.00): Waktu krusial untuk melatih fokus mendalam (deep work).
·         Saat Makan Bersama: Membangun kembali kemampuan komunikasi sosial secara langsung.



Langkah-Langkah Mengurangi Dampak Doomscrolling (Step-by-Step):

  1. Aktifkan Screen Time Limiter: Gunakan fitur bawaan ponsel untuk membatasi akses aplikasi hiburan maksimal 30-60 menit per hari.
  2. Matikan Notifikasi Non-Esensial: Notifikasi adalah pemicu utama keinginan untuk menyentuh ponsel. Matikan semua suara dan getaran dari media sosial selama jam sekolah.
  3. Gunakan Teknik Pomodoro: Latih siswa untuk fokus selama 25 menit penuh, kemudian berikan istirahat 5 menit tanpa gadget (misal: peregangan atau minum air).
  4. Hapus Aplikasi yang Paling Adiktif: Jika disiplin diri sulit dilakukan, menghapus aplikasi pemicu doomscrolling adalah langkah paling berani dan efektif.
  5. Perbanyak Literasi Fisik: Dorong siswa untuk membaca buku cetak minimal 15 halaman setiap hari untuk melatih kembali otot fokus mata dan otak.

Masa Depan Pendidikan di Jari Kita

Fenomena darurat doomscrolling adalah tantangan nyata yang tidak bisa kita abaikan. Penurunan daya fokus siswa bukan hanya masalah nilai akademik, tetapi menyangkut kemampuan generasi masa depan dalam memecahkan masalah kompleks di dunia nyata. Pendidikan harus mampu beradaptasi, namun disiplin dalam penggunaan teknologi tetap menjadi kunci utama.

Mari kita mulai langkah kecil hari ini. Mulailah dengan menaruh ponsel saat Anda sedang berinteraksi dengan orang lain, dan berikan teladan yang baik bagi para pelajar di sekitar kita.

Apakah Anda merasa daya fokus Anda atau anak Anda mulai menurun? Mari bagikan artikel ini kepada orang tua dan guru lainnya agar kita bisa bersama-sama menyelamatkan generasi penerus dari jeratan algoritma!


Posting Komentar untuk "Darurat Doomscrolling: Mengapa Siswa Sulit Fokus di Kelas dan Bagaimana Cara Mengatasinya?"