Ketika Algoritma Menjadi Pesaing Guru di Kelas
Pernahkah Anda melihat seorang siswa yang tampak gelisah
jika tidak memegang ponsel selama sepuluh menit saja? Atau mungkin Anda
menyadari bahwa konsentrasi pelajar saat ini semakin pendek saat mendengarkan
penjelasan guru? Fenomena ini bukan sekadar kebosanan biasa, melainkan dampak
dari darurat doomscrolling.
Saat ini, guru di seluruh dunia tidak lagi hanya bersaing
dengan teman sebangku yang berisik, tetapi bersaing dengan algoritma canggih
dari platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Konten video
durasi pendek yang dirancang untuk memberikan dopamin instan telah secara
perlahan merusak rentang perhatian (attention span) pelajar.
Pertanyaan besarnya adalah: Apakah kebijakan pelarangan ponsel di sekolah
merupakan solusi yang tepat, atau justru sebuah kemunduran dalam literasi digital?
Mengapa Siswa Sulit Fokus? Memahami Sains di
Balik Doomscrolling
Dampak Konten Durasi Pendek terhadap Otak
Remaja
Secara biologis, otak remaja masih dalam tahap
perkembangan, terutama pada bagian prefrontal cortex yang
bertanggung jawab atas kontrol diri dan fokus. Konten video berdurasi 15-30
detik memberikan stimulasi visual dan auditori yang sangat cepat. Setiap kali
siswa melakukan swipe ke video baru, otak mereka mendapatkan
"suntikan" dopamin.
Lama-kelamaan, otak terbiasa dengan stimulasi cepat ini dan
menganggap aktivitas belajar yang lambat (seperti membaca buku atau
mendengarkan ceramah) sebagai hal yang menyiksa. Inilah yang disebut
dengan penurunan daya fokus siswa.
Fakta dan Data Penurunan Attention Span
Menurut riset dari Microsoft, rentang perhatian
manusia telah menurun drastis sejak era digital dimulai. Jika pada tahun 2000
rata-rata perhatian manusia berada di angka 12 detik, kini angka tersebut
merosot hingga 8 detik.
Data dari Common Sense Media juga
menunjukkan bahwa remaja menghabiskan rata-rata 7-9 jam di depan layar setiap
hari untuk hiburan. Tingginya angka ini berbanding lurus dengan meningkatnya
keluhan guru mengenai kesulitan siswa dalam memahami instruksi yang kompleks di
sekolah.
Dilema Kebijakan Pelarangan Ponsel di Sekolah
Banyak sekolah mulai mengambil langkah drastis dengan
menerapkan larangan total penggunaan ponsel. Secara sosial, ini adalah langkah
pencegahan untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang interaksi tatap
muka. Namun, pelarangan tanpa edukasi seringkali hanya menjadi "obat
sesaat".
Pentingnya pencegahan melalui langkah sederhana bukan
berarti memusuhi teknologi, melainkan mengatur ulang hubungan siswa dengan
perangkat mereka. Fokus utama sekolah seharusnya adalah membangun kembali ketahanan
mental agar siswa mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan
olehnya.
Panduan Praktis Mengatasi Doomscrolling dan
Mengembalikan Fokus
Untuk mengembalikan daya fokus yang hilang, diperlukan kerja sama antara sekolah dan orang tua. Berdasarkan rekomendasi ahli kesehatan mental dan literasi digital, berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:
Waktu yang Tepat untuk Melakukan "Digital Detox"
· Jam Sebelum Tidur: Untuk menjaga kualitas tidur dan fungsi kognitif besok pagi.· Selama Jam Pelajaran (07.00 - 14.00): Waktu krusial untuk melatih fokus mendalam (deep work).
· Saat Makan Bersama: Membangun kembali kemampuan komunikasi sosial secara langsung.
Langkah-Langkah Mengurangi Dampak Doomscrolling
(Step-by-Step):
- Aktifkan Screen
Time Limiter: Gunakan fitur bawaan ponsel untuk membatasi akses
aplikasi hiburan maksimal 30-60 menit per hari.
- Matikan Notifikasi
Non-Esensial: Notifikasi adalah pemicu utama keinginan untuk
menyentuh ponsel. Matikan semua suara dan getaran dari media sosial selama
jam sekolah.
- Gunakan Teknik
Pomodoro: Latih siswa untuk fokus selama 25 menit penuh, kemudian
berikan istirahat 5 menit tanpa gadget (misal: peregangan atau
minum air).
- Hapus Aplikasi
yang Paling Adiktif: Jika disiplin diri sulit dilakukan, menghapus
aplikasi pemicu doomscrolling adalah langkah paling
berani dan efektif.
- Perbanyak Literasi
Fisik: Dorong siswa untuk membaca buku cetak minimal 15 halaman
setiap hari untuk melatih kembali otot fokus mata dan otak.
Masa Depan Pendidikan di Jari Kita
Fenomena darurat doomscrolling adalah tantangan
nyata yang tidak bisa kita abaikan. Penurunan daya fokus siswa bukan hanya
masalah nilai akademik, tetapi menyangkut kemampuan generasi masa depan dalam
memecahkan masalah kompleks di dunia nyata. Pendidikan harus mampu beradaptasi,
namun disiplin dalam penggunaan teknologi tetap menjadi kunci utama.
Mari kita mulai langkah kecil hari ini. Mulailah dengan
menaruh ponsel saat Anda sedang berinteraksi dengan orang lain, dan berikan
teladan yang baik bagi para pelajar di sekitar kita.
Apakah Anda merasa daya fokus Anda atau anak Anda mulai
menurun? Mari bagikan artikel ini kepada orang tua dan guru lainnya agar kita
bisa bersama-sama menyelamatkan generasi penerus dari jeratan algoritma!

.png)
Posting Komentar untuk "Darurat Doomscrolling: Mengapa Siswa Sulit Fokus di Kelas dan Bagaimana Cara Mengatasinya?"